Kamis, 31 Desember 2009


Senin, 28 Desember 2009

LEGENDA CANDI MUARA TAKUS

PUTRI RENO BULAN

Awalnya candi Muara Takus disebabkan oleh Tiga datuk yang terdiri dari 1. Datuk Tukang Tembak, 2. Datuk Tukang Solam, dan 3. Datuk Tukang Ubek. Diawal cerita bermenunglah datuk tukang ubek dan teringat didalam benaknya tentang sokonya yang hilang. Dan datuk tersebut memanggil dua orang temannya (Dt. Tukang tembak dan Dt. Tukang solam).

Lalu berangkatlah mereka bertiga bertapa ke tempat Koto Pondam, dan sekembalinya dari bertapa mereka berlayar menuju ke dondang. Dondang ba namo kulik kombuong. Dan sampailah mereka ke laut merah dan terdengarlah seseorang mintak tolong. Rupanya seekor elang bangke yang sedang membawa seorang putri, maka berdialoglah (berseteru) datuok yang bertiga. Tersurat di gelang tangan putri tersebut ternyata namanya adalah Reno Bulan Dan mereka bertiga terus berseteru dan sesampainya mereka ke kampung Koto Pulau Sijangkang di pasar Indo Dunio. Tak hentinya mereka bertengkar ingin membawa putri pulang ke rumah masing-masing. Sehingga mereke bertiga meminta untuk bersidang dan disidangkanlah oleh datuok Singo Mahadirajo yang tinggal di Batu Kompe yang datang dari kampung Roma. Dan akhirnya jatuhlah ketangan datuok tukang ubek.

Kembali cerita ke negeri India. Putri Andam Dewi (orang tua Reno Bulan) sudah dua hari mencari anaknya (Reno Bulan) dan maghatok dan meratapi anaknya. Dan mereka pergi ke tukang nujum untuk menanyakan keadaan anaknya. Dan tukang nujum tersebut menceritakan dimana keberadaan anaknya.

Lalu berangkatlah Raja India dengan mempersiapkan serdadu-serdadu, orang-orang yang bagak, cerdik pandai, tokoh-tokoh para petinggi raja beserta keluarga besar Raja India dengan sebuah kapal yang besar. Dan sesampainya dipelabuhan di Koto Pulau Sijangkang di songsonglah oleh anaknya (Putri Reno Bulan). Sesampainya disana bertemulah mereka. Karena putri Reno Bulan telah ditolong oleh tiga orang datuk untuk membalas budi baiknya, maka Reno Bulan memohon kepada Ayahnya untuk membuatkan sebuah istana seperti di India. Lalu raja India menyetujui permohonan anaknya itu.




Mulailah masyarakat beserta rombongan Raja India untuk pembuatan istana tersebut hingga selesai.

Setelah pembuatan istana selesai, maka mereka mengadakan pesta penyerahan Raja India ke Raja Mahadiraja, segala bunyian-bunyian di gelarkan disana (Rabab, Talempong, Gong, kecapi, segala permainan anak-anak, dll). Istana yang dibangun oleh Raja India tersebut dinamakan Candi Muara Takus.

Cukup sekian dari kami, kalau ada jarum yang patah usah di simpan didalam peti letakkan saja di pematang. Kalau kata kami yang salah usah disimpan di dalam hati buangkan saja kebelakang.

Jumat, 25 Desember 2009

TANDO CINTO

Cipt. SUDIRMAN PG

Onta dimano kan deyen cai
Cinto suci ka gontinyo
Ughang den sayang dalam hati
Hilang inda ado barito

Siang malam den mananti
Abi bulan taun bagonti
Onta dimanonyo kini
Ughang den sayang saponuo hati

Taisak tangi di tongah malam
Takonang Acu nan den sayang
Tabayang kisah nan lamo
Samaso wakotu baduo

Sapu tangan tando cinto
Sampai kini masih den simpan
Acu sayang onta dimano
Indak ado kabar baito

Datanglah sayang datanglah sayang
Kan den nanti sampai cu tibo
Datanglah sayang datanglah sayang
Kan den tunggu sampai cu tibo
Deyen mananti sampai cu pulang

IBU

Kutipan dari hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh dua syeikh hadits: Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli?" Beliau menjawab, "Ibumu! Ia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab lagi, "Ibumu!" Ia balik bertanya, "Siapa lagi?" Rasul kembali menjawab, "Ibumu!" Ia kembali bertanya, "Lalu siapa lagi?" Beliau menjawab, "Bapakmu!" (Dikeluarkan oleh Asy-Syaikhani (Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling pantas aku pergauli?" Rasul menjawab, "Ibumu, ibumu ibumu dan bapakmu! Kemudian orang yang paling dekat denganmu dan paling dekat." (Dikeluarkan oleh Imam Muslim).
Ibu. Sebuah kata yang sangat menggetarkan hati. Adakah orang yang paling dekat dari seseorang (setelah Allah) dari seorang ibu? Tidak ada! Seorang ibu adalah pesona kehidupan. Ia adalah lambang cinta abadi, pengorbanan yang hakiki dan pribadi utusan Ilahi di atas bumi-Nya. Ibu adalah wakil Allah di muka bumi. Meskipun demikian, bukan berarti seseorang harus melupakan ayahnya. Karena ayah dan ibu memiliki satu derajat dalam Al-Qur'an. Mereka berdua laksana "dua sisi mata uang yang absurd untuk dipisahkan. Keridhaan mereka merupakan keridhaan Allah. Dan murka mereka merupakan murka-Nya. Dari Abdullah ibn 'Amru ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda, "Keridhaan Tuhan berada pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Tuhan berada pada kemurkaan orang tua." (HR Al-Turmudzi).
Marilah kita tadabburi penjelasan Allah dalam kitab-Nya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari mereka atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan hendaklah rendahkan dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (dahulu)" (Qs. Al-Isra' [17]: 23-24).
"Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulahkembalimu" (Qs. Luqman [31]: 14).
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya dan menyapihnya dalam tiga puluh bulan..." (Qs. Al-Ahqaf [46]: 15).
"Dan kami wajibkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya..." (Qs. Al-'Ankabut [29]: 8).
Ibu adalah orang yang paling susah memelihara anaknya: mengandung, menyusui dan menyapihnya. Ternyata, seorang anak itu sejak dalam kandungan saja sudah "terbiasa" membuat susah ibunya. Maka, sangat ironis jika sudah dewasa dan sudah kaya malah "lupa kacang akan kulitnya." Alangkah durhakanya jika seorang anak tidak rela "tegel" dan lantai rumahnya disentuh oleh telapak kaki ibunya yang bersih dan suci. Telapak kaki yang menyimpan "surga Allah." Dari Thalhah ibn Mu'awiyah al-Sulma ra. ia berkata, "Aku datang kepada Rasulullah dan berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad di jalan Allah. Beliau bertanya, "Ibumu masih hidup? Ia menjawab, "Ia! Beliau berkata, "Taatlah kepadanya, di kakinya terdapat surga" (HR Al-Thabrani).
Tidak jarang memang, seorang anak malah membalas "air susu dengan air tuba." Padahal, sebesar apapun harta yang dikeluarkan oleh seorang anak, tidak akan pernah bisa untuk mengembalikan ASI yang mendarah daging dalam tubuhnya. ASI lebih berharga daripada harta: kekayaan, kemewahan dan glamor duniawi. Kiranya tidak ada yang mampu untuk mengkalkulasikan harga ASI, karena sangat mahal harganya.
Berbakti kepada ibu melebihi segalanya. Bahkan pengabdian seorang anak kepada ibu (juga bapaknya) menggugurkan kewajiban untuk berjihad. Dari Abdullah ibn 'Amru ibn 'Ash ra. ia berkata, "Seorang laki-laki datang menghadap Rasul saw dan berkata, "Aku membaiatmu untuk berhijrah dan jihad untuk memperoleh pahala dari Allah!" Rasul saw kemudian bertanya kepadanya, "Apakah salah satu kedua orang tuamu ada yang masih hidup?" Ia menjawab, "Ya, bahkan keduanya masih hidup!" Rasul balik bertanya, "Dan engkau ingin mendapat pahala dari Allah?" Ia menjawab, "Ya!" Rasul lalu berkata kepadanya, "Pulanglah kepada kedua orang tuamu dan berbakti kepada mereka" (Muttafaq 'Alaihi).
Oleh karenya, salah satu amalan yang sangat dicintai oleh Allah adalah berbakti kepada kedua orang tua. Dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw, "Pekerjaan apa yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya! Aku bertanya lagi, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua! Aku bertanya lagi, "Lalu apa? Beliau menjawab, "Berjihad di jalan Allah!" (HR Bukhari dan Muslim).
Subhanallah! Berbakti kepada ibu (dan bapak) menggugurkan jihad di jalan Allah. Betapa mulianya derajat seorang ibu. Itu karena nilai cinta yang dimiliki seorang ibu kepada anaknya. Pepatah menyatakan: Cinta ibu sepanjang zaman, dan cinta anak sepanjang jalan. Bahkan bisa jadi sepanjang "galah." Tidak jarang seorang anak malah bangga ketika mampu menyisihkan gajinya untuk biaya ibunya di panti jompo. Ibunya yang sudah tua: kulitnya yang keriput, giginya yang sudah ompong, sudah kehilangan tenaga bahkan kembali seperti anak-anak terkadang dianggap menjadi perusak pemandangan di dalam rumah sang anak. Maka sang anakpun merasa risih, bahkan jijik. Lalu sang anak bersama sang menantu mengambil inisiatif (yang menurut mereka benar) untuk memasukkan sang ibu yang tua renta ke panti jompo. Na'udzubillahi min dzalik.
Sebenarnya, ketika kecil dulu: ketika sang anak sering ngompol di popoknya, atau buang air di ranjang, sang ibu lebih mampu untuk menaruh sang anak ke pantai asuhan. Tapi karena cintanya yang tulus dan besar, bahkan tanpa akhir itu tidak mampu melakukan hal itu. Namun ketika posisi itu berbalik, sang anak malah melakukan sebaliknya. Bukankah ketika orangtua sudah jompo merupakan giliran sang anak untuk membersihkan popok dan ranjang tempatnya membuang air? Itulah yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukankah mengatakan ah saja tidak boleh? Bagaimana kalau sampai orang tua dijadikan pembantu di rumah tangga, atau diusir karena sudah (dirasa) tidak berguna?
Sungguh, berbuat jahat kepada ibu hanya akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Celakalah, celakalah, celakalah! Beliau kemudian ditanya, "Siapa yang celaka wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Siapa yang mendapati salah satu dari orang tuanya atau keduanya, namun ia tidak berusaha untuk memasukkannya ke dalam surga" (HR Ahmad).
Tentunya, keberadaan sang ibu merupakan kesempatan emas untuk meperoleh ridhanya dan ridha Allah. Karena kalau sudah tiada, kesempatan menjadi berkurang, karena sang anak paling hanya bisa berdoa dan bersedekah untuknya. Maka yang masih memiliki ibu, pergunakan kesempatan itu. Maka berbaktilah kepada ibumu, ibumu, ibumu, selagi kesempatan terbuka lebar. Wallahu a'lamu bi al-shawab

Jumat, 11 Desember 2009

Pekan Budaya Kampar 2009

Saat Pawai dari kontingen XIII Koto Kampar menampilkan atraksi menggigit losuong di sepanjang jalan dari Jl. A. Yani sampai ke Jl. D.I Panjaitan Bangkinang

Rabu, 02 Desember 2009

SYAIR TASAUF

BAG. I

SOLALLAH ALAN NABI …. SOLALLAH ALARRASUL .…
SOLALLAH …. ALAL HABIBI…. MUHAMMADAN ABDA RASULI
YA UMAR ….. USMAN, ALI, FATIMAH BINTI ROSULI …..
ABU BAKAR …. SAHABAT NABI….. ROSULULLAH JUNJUNGAN KAMI

WAHAILAH INSAN….. INSYAFLAH DIRI……….
JANGANLAH LUPA….. HHIDUPKAN MATI……..
DUNIA INI……. TEMPAT BERHENTI……..
KAMPUNG AKHIRAT KEKAL ABADI

JANGANLAH LALAI……. DIDUNIA INI
SUPAYA JANGAN MENTESAL NANTI…..
SIANG DAN MALAM TETAP BERGANTI…..
UMUR …… BERKURANG……. SETIAP…… HARI……

ENTAH PABILA TIBANYA JANJI……
ENTAHLAH PETANG ENTAHLAH PAGI…..
DIDALAM KUBUR SEORANG DIRI……
TIADALAH BERKAWAN UNTUK PENGHIBUR HATI….

MAYAT MENANGIS…….. MENYESALI DIRI…….
MEMIKIRKAN UNTUNG DITEMPAT YANG SUNYI

ANAK DAN CUCU…. TAK ADA LAGI……
KAUM KERABAT JAUH SEKALI
HANYALAH YANG MENJADI KAWAN KITA LAGI
AMAL …. IBADAH ….. DIRI …. SENDIRI

SIROTOL MUSTAKIM SUDAHLAH PASTI
DI SITU LAH UMAT AKAN MENITI
SURGA DAN NERAKA …. SUDAH MENANTI
BALASAN AMAL …. DI DUNIA INI 2 X


BAG. 2

WAHAILAH INSAN …. BANGUNLAH DIRI ….
WAKOTU SOLAT …. SUDAH MENANTI ….
MEMANGGIL INSAN …. DI WAKTU INI ….
MENYEMBAH ALLAH TUHAN ILLAHI ….

HIDUPKAN IMAN …. DI DALAM HATI ….
DIRIKANLAH SOLAT …. DI WAKTU INI ….
JANGANLAH LALAI …. DI DUNIA INI ….
BERSEGERALAH BERTOBAT …. SEBELUM MATI ….

DI DALAM KUBUR …. SEORANG DIRI ….
SAMPAI KIAMAT …. MASA MENANTI ….
MAYAT MENANGIS …. MENYESALI DIRI ….
MENGENANGKAN UNTUNG …. DIRI SENDIRI ….

UMAT BERDO’A …. KEPADA ILAHI ….
HENDAK KEMBALI …. KE DUNIA INI ….
HENDAK BERTOBAT …. MAKSUD DI HATI ….
MENYEMBAH ALLAH …. TUHAN ILAHI ….

WAKTU BERTOBAT …. TAK ADA LAGI ….
KARENA DUNIA …. SUDAH BERGANTI ….
DENGAN AKHIRAT …. KAMPUNG ABADI ….
BEGITULAH HUKUMAN …. ALLAHU ROBBI …. 2X