Kamis, 29 Desember 2011

Renungan 2012


"Sungguh, dalam semua ini terdapat pesan bagi mereka yang dapat membaca tanda-tanda," (Q.S. Al-Hijr [15]: 75).



"SELAMAT TAHUN BARU 2012"
Bagi Umat Islam, sejenak merenungi diri untuk mengubah kondisi kearah yang lebih baik adalah misi suci tiada henti. Disini, di bumi ini, tugas kita adalah pesan suci langit kepada manusi. Menyampaikan keluhuran, kesucian, dan kedamaian hingga terasa nyata oleh seluruhalam semesta. Itulah mengapa Islam memegang teguh prinsip "rahmatan lil alamin". Transformasi diri dalam perspektif Islam tidak hanya di lakukan pada saat-saat tertentu, tetapi sepanjang hayat di kandung badan. Dalam bahasa lain, seumur hidup, perubahan ke

SELAMAT TAHUN BARU 2012

Seperti apa kado yang gak perlu di beli itu? hehe,.. Mendapatkan bingkisan istimewa dari pasangan saat merayakan tahun baru pastinya menyenangkan. Tapi, sebenarnya kaum wanita tidak melulu menginginkan barang sebagai hadiah spesial.

Menjelang pergantian tahun, kebanyakan wanita lebih mengharapkan kejutan berupa sikap penuh perhatian khusus yang tulus dari pasangannya, daripada bingkisan berisi barang mewah. Seperti apa hadiah khusus yang akan menciptakan suasana penuh romantis di akhir tahun?

Berikut ini beberapa hal yang bisa pria berikan agar hati wanita 'melayang', dikutip dari Your Tango.

- Mendengarkan
Jangan salah, saat berbincang-bincang, wanita pasti merasa dihargai dan dihormati apabila pasangan mau mendengarkannya sampai selesai bicara. Bayangkan, jika si dia selalu memotong kalimat saat wanita belum menyelesaikan ucapan. Tentu tidak mengenakkan. Jadi saran untuk pria, cobalah buka telinga dan tutup mulut.

Kamis, 22 Desember 2011

Pesan Rasul Kepada Putrinya


"Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumpang (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul berkata kepadanya: "Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah? Allah tiada membuat matamu menangis. "Fathimah kemudian menjawab: "Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan
kesibukanku dalam rumah".

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi: "Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan menyelesaikan urusan rumah. "Setelah Nabi mendengar ucapan itu, maka Beliau bangkit dan menghampiri batu penggiling itu. Beliau ambil gandum itu dengan tangan Beliau yang mulia, kemudian beliau letakkan ke dalam batu penggiling, seraya mengucapkan ‘Bismillahir Rahmanir Rahim’. Maka atas izin Allah, batu penggiling itu berputar dengan sendirinya. Beliau turunkan gandum itu dari batu penggiling dengan tangan beliau sendiri. Batu penggiling itu terus berputar dengan sendirinya dan membaca tasbih dengan bahasa yang berbeda-beda sehingga selesai gandum tertumbuk semuanya.

Kemudian Rasulullah berkata kepada lumpang itu : "Berhentilah engkau dengan izin Allah", lalu lumpang itu berhenti dan berkata atas izin Allah, Zat yang mengucapkan  segala sesuatu, seraya berkata dengan lisan yang fasih dan berbahasa Arab : "Ya Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai nabi dan rasul, kalau saja engkau perintahkan aku untuk menggiling gandum jagat Timur dan Barat, tentu aku akan menggilingnya. Dan sesungguhnya aku mendengar firman dalam Kitab Allah : "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu daripada neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, sedang penjaganya malaikat-malaikat yang kasar  lagi keras, mereka tiada mendurhakai Allah tentang apa-apa yang disuruh-Nya dan mereka memperbuat apa-apa yang diperintahkan kepadamu." (Q.S. At Tahrim : 6 ).

Maka aku khawatir wahai Rasulullah, kalau-kalau aku menjadi batu yang dimasukkan kedalam neraka". Kemudian Nabi berkata kepada batu itu : "Bergembiralah engkau. Sesungguhnya engkau termasuk batu gedung Fathimah di surga". Maka ketika itu lumpang menjadi lega gambira dan diam.

Kemudian Nabi berkata kepada puterinya, Fathimah: "Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan  serta hendak mengangkat derajatmu

Wahai Fathimah, barangsiapa orang perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan   mengangkat derajatnya.

Wahai Fathimah, barang siapa orang perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum)  untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq  (lubang yang panjang).

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir  anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari   memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga "Kautsar" kelak di hari  Kiamat.

Wahai Fathimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan  untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan.

Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala  para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan di hari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang  tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga. Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu  kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega,  maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya"mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang  belum lewat".

Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya,  mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil  makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat".

Pesan Rasul Kepada Putrinya


"Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumpang (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul berkata kepadanya: "Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah? Allah tiada membuat matamu menangis. "Fathimah kemudian menjawab: "Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan
kesibukanku dalam rumah".

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi: "Wahai ayahanda, atas keutamaan